Jakarta, Aktual.news – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi fenomena El Nino dengan meningkatkan ketersediaan sumber air serta memperkuat jaringan irigasi di berbagai daerah.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus memastikan pasokan air bagi masyarakat tetap terjaga di tengah ancaman musim kering yang berkepanjangan.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan dampak El Nino tidak hanya dirasakan sektor pertanian akibat berkurangnya pasokan air untuk sawah dan lahan perkebunan. Menurutnya, kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan mengurangi cadangan air di sejumlah bendungan.

“Untuk mengantisipasi El Nino, kami membentuk Satgas. Karena yang terdampak tidak hanya irigasi dan sawah yang kekeringan, tetapi mungkin di beberapa titik SPAM dan bendungan juga akan mengalami kekeringan,” ujar Dody, di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Ia menjelaskan, satuan tugas yang dibentuk tersebut bertujuan memperkuat koordinasi antarunit di lingkungan Kementerian PU, termasuk Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Cipta Karya, serta unit terkait lainnya. Dengan koordinasi yang lebih terintegrasi, langkah-langkah penanganan diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan efektif.

Meski Satgas baru dibentuk, Kementerian PU telah menjalankan sejumlah langkah antisipasi sejak awal tahun. Salah satu program yang telah berjalan adalah pengeboran air tanah dalam di sejumlah wilayah yang selama ini kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau.

“Sebetulnya, antisipasi awal sudah dikerjakan oleh teman-teman SDA. Dari awal tahun sudah melakukan program pengeboran dalam di beberapa titik yang selama ini kita lihat sebagai titik kekeringan di seluruh Indonesia,” katanya.

Kabupaten Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu wilayah prioritas dalam program tersebut. Selain itu, sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur juga masuk dalam fokus penanganan karena sering menghadapi keterbatasan pasokan air saat musim kemarau.

Selain penyediaan sumber air, Kementerian PU juga menaruh perhatian pada penguatan jaringan distribusi air ke lahan pertanian. Menteri Dody menilai pembangunan jaringan irigasi tersier menjadi bagian penting agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani.

“Saya minta selain melakukan pengeboran air dalam, khusus untuk air yang diperuntukkan bagi irigasi sawah maupun kebun, wajib juga dibuat jaringan irigasi tersier,” tegasnya.

Pengembangan infrastruktur irigasi tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berupaya memastikan jaringan irigasi di berbagai daerah dapat berfungsi secara optimal guna mendukung produktivitas pertanian.

Untuk mempercepat pelaksanaannya, Kementerian PU dan Kementerian Pertanian telah menyepakati pendataan jaringan irigasi daerah dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pembangunan.

Langkah ini diharapkan menghasilkan perencanaan yang lebih akurat sehingga program irigasi dapat dijalankan lebih cepat dan tepat sasaran pada tahun 2026 maupun tahun-tahun berikutnya.

“Kita bersepakat dengan Kementerian Pertanian bahwa kita mengeksekusi Inpres Irigasi itu bersamaan dengan mendata irigasi-irigasi daerah. Kemudian 2026 dan seterusnya bisa kita kerjakan lebih awal dan lebih presisi. Tapi fungsinya sama, bagaimana agar swasembada pangan itu terwujud,” tegas Menteri Dody.

Melalui penguatan sistem irigasi, penyediaan sumber air tambahan, serta koordinasi lintas sektor, Kementerian PU berupaya meminimalkan dampak El Nino terhadap sektor pertanian dan layanan air bagi masyarakat. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim.

Laporan: Achmat

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi