Aktual/Ilustrasi: AI-ChatGPT

Tel Aviv, Aktual.news – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, melontarkan kritik terhadap sikap Amerika Serikat dalam menghadapi Iran. Menurutnya, Washington terlalu percaya bahwa Teheran bersedia menghentikan program nuklirnya dan mengakhiri ambisi yang dianggap mengancam Israel.

Dalam sebuah wawancara dengan Channel 7 Israel, Ben-Gvir menegaskan bahwa Israel tidak boleh bergantung sepenuhnya pada kebijakan negara lain dalam menghadapi ancaman yang dinilainya berasal dari Iran.

“Amerika sangat naif jika mereka berpikir Iran akan meninggalkan program nuklirnya dan membatalkannya, dan melepaskan impian mereka untuk menghancurkan Israel,” kata menteri garis keras Israel itu dalam wawancara dengan televisi Israel, Channel 7, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (24/6/2026).

Ia menambahkan bahwa Israel memiliki tanggung jawab sendiri untuk menghadapi ancaman tersebut tanpa harus menunggu langkah dari pihak lain.

“Menjadi tanggung jawab Israel untuk menghadapi ancaman Iran ini dan bertindak sendiri melawannya,” tegasnya.

Ben-Gvir juga menekankan bahwa kepentingan keamanan nasional Israel tidak dapat sepenuhnya disesuaikan dengan kehendak negara lain, termasuk sekutu dekatnya.

Menurutnya, “tidak ada keadaan” yang dapat memaksa Israel untuk bekerja “sesuai dengan perintah seorang teman, bahkan jika teman itu benar-benar hebat”.

Pernyataan tersebut muncul di tengah perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Israel terkait kebijakan terhadap Iran. Ketegangan juga sempat muncul menyusul operasi militer Israel di Lebanon yang diklaim menyasar kelompok Hizbullah, sementara Washington dan Teheran sedang menjalani proses perundingan guna mencapai kesepakatan damai jangka panjang.

Selama ini, Amerika Serikat dan Israel menuduh Iran menjalankan program nuklir dan pengembangan rudal yang dinilai berpotensi mengancam keamanan Israel serta negara-negara sekutu Washington di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Pemerintah Teheran menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankannya bertujuan damai dan tidak ditujukan untuk pengembangan senjata nuklir maupun mengancam negara lain.

Konflik antara kedua pihak memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pertempuran kemudian mereda setelah diberlakukannya gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada 8 April. Meski demikian, sejumlah insiden saling serang masih sempat terjadi sebelum kedua pihak mencapai kesepakatan damai awal pada Juni 2026.

Sebagai bagian dari proses tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dilaporkan telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) secara elektronik pada 17 Juni. Dokumen itu disebut menjadi landasan awal untuk mewujudkan perdamaian jangka panjang antara Washington dan Teheran.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain