Tangerang, Aktual.news – LAB Indonesia 2026 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City pada 15–17 April 2026 menjadi momentum penting menguatnya ekosistem riset dan industri laboratorium nasional.

Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ratno Nuryadi, menegaskan kemajuan industri tidak bisa dilepaskan dari kualitas laboratorium.

“Kemajuan industri nasional sangat ditentukan oleh kualitas infrastruktur laboratorium dan konektivitas antar-pemangku kepentingan. Laboratorium bukan sekadar ruang pengujian, tetapi fondasi manufaktur berbasis teknologi tinggi,” ujar Ratno, Rabu (15/4/2026).

Ia menilai, selama ini tantangan riset nasional terletak pada lemahnya kolaborasi antara peneliti, industri, dan pemerintah. Ajang ini, kata dia, menjadi ruang strategis untuk mempercepat integrasi tersebut.

“Melalui LAB Indonesia, terjadi akselerasi transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta terbukanya kolaborasi strategis. Ini kunci menuju kemandirian teknologi,” katanya.

Di tengah besarnya potensi pasar dengan proyeksi industri laboratorium klinis mencapai US$ 3,1 miliar pada 2027, Ratno mengingatkan Indonesia masih menghadapi ketergantungan pada teknologi impor.

“Kita harus jujur, sebagian besar teknologi masih dari luar. Karena itu, penguatan riset domestik dan hilirisasi menjadi sangat penting agar kita tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta teknologi,” tegasnya.

Pameran yang diikuti ratusan perusahaan dari berbagai negara ini sekaligus mencerminkan posisi Indonesia, antara menjadi pusat pertumbuhan industri laboratorium atau sekadar pasar.

“Kalau kita ingin industri kita kuat, maka sistem pengujiannya harus kuat. Dan itu kembali ke laboratorium. Ini isu strategis nasional,” ujar Ratno.

LAB Indonesia 2026 menargetkan lebih dari 15.000 pengunjung profesional dan menghadirkan 205 trade buyers. Namun lebih dari sekadar angka, ajang ini menjadi refleksi atas posisi Indonesia dalam peta industri laboratorium global, antara peluang menjadi pusat pertumbuhan baru atau sekadar pasar yang terus dibanjiri teknologi asing.

Oleh: Taufik Akbar Harefa

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain