Blora, Aktual.news – Udara sejuk perbukitan Hotel Azana Hill Resort Blora menjadi latar bagi berlangsungnya forum Suluk Negarawan yang diselenggarakan Lumbung Kreasi Nusantara bersama Sekolah Negarawan, Jumat (14/5/2026). Namun forum itu tidak hanya menghadirkan suasana hening khas pegunungan. Ia juga membawa kegelisahan tentang keadaan bangsa yang dinilai semakin kehilangan arah kebudayaan dan kedalaman berpikir mengenai negara.
Di hadapan peserta yang mayoritas generasi muda, Senior Advisor Sekolah Negarawan Adil Amrullah atau yang akrab disapa Cak Dil mengajak peserta untuk kembali memikirkan negara bukan sekadar sebagai kekuasaan, melainkan sebagai rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh warga negara.
Menurut Cak Dil, kesadaran tentang negara hari ini semakin menipis karena masyarakat terlalu lama memandang urusan kenegaraan hanya sebagai wilayah elite politik dan pejabat pemerintahan. Padahal, kata dia, setiap warga negara memiliki tanggung jawab moral terhadap keadaan bangsanya sendiri.
“Setiap warga negara punya tanggung jawab terhadap keadaan negaranya,” ujarnya dalam forum tersebut.
Ia menjelaskan bahwa Sekolah Negarawan lahir sebagai ruang pendidikan kebangsaan yang ingin menanamkan kembali kesadaran berpikir tentang negara, ketatanegaraan, dan kenegarawanan. Forum ini, menurutnya, bukan ruang politik praktis, melainkan ruang belajar untuk membangun cara pandang jangka panjang terhadap masa depan Indonesia.
Cak Dil juga menyinggung pentingnya membedakan antara negara dan pemerintah, sebuah gagasan yang selama ini banyak diperbincangkan oleh kakaknya, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Dalam pandangan tersebut, negara tidak boleh dipersempit hanya menjadi pemerintah. Sebab jika negara sepenuhnya disamakan dengan penguasa, maka kritik dan kontrol sosial akan mudah dianggap sebagai ancaman kekuasaan.
Selama hampir dua tahun terakhir, Sekolah Negarawan melakukan riset dan kajian serius terhadap gagasan tersebut. Hasilnya kemudian mulai diperkenalkan kepada publik melalui forum-forum pendidikan seperti Suluk Negarawan di Blora.
Cak Dil menilai Blora dipilih bukan tanpa alasan. Daerah ini memiliki sejarah panjang dalam melahirkan tokoh-tokoh pemikiran yang berpengaruh terhadap perjalanan bangsa. Dari tanah Blora lahir Samin Surosentiko dengan gerakan perlawanan rakyatnya, hingga Pramoedya Ananta Toer dengan karya-karya sastra yang mengguncang kesadaran sosial Indonesia.
“Blora punya sejarah pemikiran yang kuat. Maka kami ingin menanam benih-benih baru dari tempat ini,” katanya.
Sementara itu, Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra mengajak peserta memahami kondisi bangsa melalui pendekatan yang lebih reflektif. Ia menggunakan teori “fraktal sosial” untuk menjelaskan bagaimana budaya korupsi, feodalisme, dan populisme tumbuh dari pola-pola kecil yang terus berulang dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Saputra, masyarakat sering kali menganggap pelanggaran kecil sebagai hal biasa. Namun ketika perilaku itu terus diulang dalam berbagai level sosial, ia berubah menjadi budaya kolektif yang sulit dihentikan.
“Bangsa ini sering sibuk mengutuk hasil akhirnya, tetapi lupa memperbaiki pola kecil yang terus diulang setiap hari,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Saputra juga menyoroti pentingnya transformasi budaya melalui teknologi informasi. Ia menyebut perkembangan teknologi digital sebenarnya dapat membantu menciptakan tata kelola negara yang lebih transparan dan akuntabel jika digunakan secara tepat.
Mulai dari artificial intelligence, big data, blockchain, hingga Internet of Things dinilai dapat menjadi instrumen untuk memperbaiki layanan publik sekaligus memperkecil ruang korupsi. Namun ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Perubahan utama tetap terletak pada kesadaran manusianya.
Forum Suluk Negarawan berlangsung dalam suasana dialog yang cair. Hadirin tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga berdiskusi tentang berbagai kegelisahan sosial yang mereka rasakan sehari-hari: mulai dari birokrasi yang rumit, politik yang makin transaksional, hingga generasi muda yang semakin jauh dari nilai-nilai kebangsaan.
Di penghujung acara, suasana menjadi lebih hening ketika salah seorang menyampaikan refleksinya.
“Republik ini belum selesai dibangun. Dan mungkin tugas generasi kita adalah ikut menyelesaikannya,” ucapnya pelan.
Kalimat itu seolah menjadi penutup yang pas bagi Suluk Negarawan: sebuah ajakan untuk kembali memikirkan bangsa, bukan dengan amarah, melainkan dengan kesadaran dan keberanian untuk berubah.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















