Jakarta, Aktual.news — Ketegangan Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda menjadi sorotan utama dalam pertemuan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di sela forum Menteri Luar Negeri BRICS di New Delhi, Jumat.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu. Meski saat ini memasuki fase gencatan senjata, situasi di lapangan disebut masih rapuh.

Dalam pernyataannya di platform X, Jaishankar menyebut pembicaraan dengan Araghchi berlangsung intens dan menyentuh berbagai isu strategis, termasuk dinamika kawasan Timur Tengah.

“Kami membahas situasi di Timur Tengah dan implikasinya, termasuk isu bilateral yang menjadi kepentingan bersama,” kata Jaishankar, dikutip dari Anadolu Agency.

Selain konflik, kedua pihak juga menyoroti perkembangan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia yang belakangan terdampak langsung oleh eskalasi militer di kawasan.

Araghchi dalam pertemuan tersebut turut memaparkan kondisi terbaru konflik, termasuk dinamika gencatan senjata serta proses negosiasi yang masih berlangsung. Ia juga menyampaikan harapan agar keketuaan India di BRICS mampu memperkuat koordinasi dan capaian kerja sama antarnegara anggota, sebagaimana dilaporkan kantor berita Iran, IRNA.

Konflik yang telah berlangsung sekitar 40 hari itu dilaporkan menewaskan lebih dari 3.300 orang di Iran serta menyebabkan ribuan warga mengungsi. Di sisi lain, serangan balasan Teheran disebut telah menargetkan pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah, menewaskan sedikitnya 13 personel militer AS dan melukai puluhan lainnya.

Di forum yang sama, Araghchi juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan kedua pihak membahas perkembangan terkini di Asia Barat serta negosiasi terkait program nuklir Iran.

“Kedua pihak bertukar pandangan terkait perkembangan terkini di Asia Barat dan negosiasi terkait isu nuklir Iran,” demikian pernyataan resmi Kemlu Iran.

Selain isu nuklir, kerja sama energi dan transportasi antara Teheran dan Moskow turut menjadi agenda pembahasan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut Lavrov menegaskan kesiapan Moskow untuk membantu penyelesaian konflik terkait Iran.

Ketegangan di kawasan juga berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama pengiriman energi global. Gangguan di jalur tersebut disebut turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di pasar internasional.

Menurut laporan Sputnik/RIA Novosti-OANA, Amerika Serikat terus berupaya membatasi program nuklir Iran, sementara Teheran menuntut jaminan keamanan sebelum bersedia melanjutkan pembahasan lebih lanjut.

Di tengah tarik-menarik kepentingan global, Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial. Setiap eskalasi di kawasan ini tak hanya berdampak regional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas energi dan ekonomi dunia.

Sumber: Anadolu Agency, IRNA, Sputnik/RIA Novosti-OANA

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi