Hadapi Tantangan Global, Indonesia Ajak Anggota CPOPC Suarakan Tata Kelola Sawit yang Adil dan Bebas Diskriminasi

Jakarta, Aktual.news – Indonesia kembali mengambil peran dalam memperkuat kerja sama negara-negara penghasil minyak sawit melalui penyelenggaraan The 31st Senior Officials Meeting (SOM) of the Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) di Jakarta pada 29 Juni 2026.

Forum ini menjadi ajang pembahasan berbagai isu strategis yang dihadapi industri kelapa sawit dunia sekaligus mempererat koordinasi antarnegara anggota dalam menyusun langkah bersama.

Pertemuan yang digelar secara hybrid tersebut diikuti delegasi dari lima negara anggota CPOPC, yakni Indonesia, Malaysia, Honduras, Republik Demokratik Kongo, dan Papua Nugini. Selain itu, Ghana, Kolombia, dan Nigeria hadir sebagai negara pengamat. Sekretariat CPOPC serta sejumlah kementerian dan lembaga pemerintah Indonesia juga turut ambil bagian dalam forum tersebut.

Delegasi Indonesia terdiri atas perwakilan Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Direktur Utama BPDP juga bergabung dalam delegasi Indonesia untuk mengikuti rangkaian pembahasan.

Sebagai salah satu pendiri CPOPC dan produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memandang kolaborasi antarnegara produsen sebagai langkah penting untuk menjaga keberlanjutan industri sekaligus meningkatkan daya saing komoditas sawit di pasar internasional. Upaya tersebut juga diarahkan agar manfaat industri sawit dapat dirasakan secara lebih luas, terutama oleh jutaan petani.

Dalam agenda pertemuan, para delegasi membahas tindak lanjut hasil pertemuan sebelumnya beserta perkembangan berbagai program kerja CPOPC. Sejumlah isu lain yang turut menjadi perhatian meliputi penguatan riset, strategi komunikasi publik, pemberdayaan petani sawit, hingga koordinasi menghadapi tantangan perdagangan internasional, aspek keberlanjutan, ketertelusuran rantai pasok, serta penerapan berbagai regulasi global, termasuk European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Forum tersebut juga menyoroti kondisi global sepanjang 2026 yang dipengaruhi perubahan iklim, pergeseran permintaan pasar, serta fluktuasi harga minyak nabati. Situasi tersebut dinilai memerlukan koordinasi yang lebih erat di antara negara-negara produsen agar mampu merespons berbagai tantangan secara terpadu.

Senior Official CPOPC dari Indonesia, Dida Gardera, menilai pertemuan ini menjadi kesempatan penting untuk memperkuat sinergi sekaligus memastikan berbagai program yang telah disepakati dapat terus dijalankan.

Menurutnya, pertemuan SOM CPOPC ke-31 menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi dan solidaritas negara-negara produsen minyak sawit dalam menghadapi berbagai tantangan global, baik di bidang perdagangan, keberlanjutan, maupun dinamika pasar.

“Forum ini juga menjadi kelanjutan dari pembahasan strategis yang telah dilakukan pada pertemuan sebelumnya di Malaysia sehingga implementasi program kerja CPOPC dapat terus berjalan secara konsisten dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh negara anggota,” ujar Dida, di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Melalui pertemuan tersebut, Indonesia juga mengajak seluruh negara anggota CPOPC memperkuat posisi bersama dalam memperjuangkan tata kelola perdagangan minyak sawit yang adil, transparan, didukung bukti ilmiah, dan bebas dari praktik diskriminatif.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan penerimaan minyak sawit di pasar global sekaligus mempertahankan perannya dalam mendukung ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan petani.

Di tingkat nasional, BPDP terus menjalankan berbagai program yang mendukung pengembangan industri kelapa sawit. Program tersebut meliputi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), peningkatan kualitas sumber daya manusia, riset dan inovasi, promosi, pembangunan sarana dan prasarana perkebunan, hingga pelaksanaan program mandatori biodiesel.

Berbagai program itu menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan produktivitas, memperbesar nilai tambah, memperkuat daya saing, sekaligus menjaga keberlanjutan sektor kelapa sawit nasional.

Keterlibatan BPDP dalam forum CPOPC juga mencerminkan dukungan Indonesia terhadap penguatan kerja sama internasional dalam pengembangan industri sawit yang berkelanjutan.

Melalui kontribusi tersebut, BPDP turut memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia sekaligus mendukung upaya mencapai ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan petani.

Pemerintah berharap penyelenggaraan The 31st Senior Officials Meeting CPOPC di Jakarta dapat menghasilkan rekomendasi yang memperkuat koordinasi antarnegara anggota dalam menghadapi berbagai perkembangan global.

Kesepakatan yang dihasilkan dari forum ini diharapkan menjadi pijakan untuk memperluas kerja sama internasional demi mendorong industri minyak sawit yang berkelanjutan, inklusif, dan semakin kompetitif.

Laporan: Achmat

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi