Selat Hormuz, Iran. Aktual/HO

Jakarta, Aktual.news – Militer Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak memasuki Selat Hormuz menyusul rencana Presiden AS Donald Trump yang ingin membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di jalur perairan strategis tersebut.

Dikutip dari Al Jazeera, Kepala Komando Gabungan Militer Iran Ali Abdollahi menegaskan pasukan AS akan menjadi sasaran serangan apabila tetap nekat memasuki Selat Hormuz. Iran juga meminta kapal-kapal komersial dan tanker minyak untuk tidak bergerak tanpa koordinasi dengan pihak Teheran.

“Kami memperingatkan bahwa setiap pasukan bersenjata asing, terutama AS yang agresif, akan diserang jika mereka berniat mendekati dan memasuki Selat Hormuz,” ujar Abdollahi.

Beberapa jam setelah pernyataan tersebut, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), melaporkan bahwa dua rudal telah menghantam kapal perang AS di ujung selatan Selat Hormuz.

Namun, laporan itu langsung dibantah pihak AS. Washington menegaskan tidak ada kapal perang mereka yang terkena serangan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di Truth Social pada Minggu (3/5/2026) mengumumkan rencana membantu kapal-kapal dan awak yang terjebak di Selat Hormuz akibat konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.

Trump mengatakan operasi itu juga ditujukan untuk membantu kapal-kapal yang kehabisan makanan dan logistik setelah lebih dari dua bulan terjebak sejak konflik pecah.

“Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan terlarang ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka,” tulis Trump, dikutip dari Canberra Times, Kamis (7/5/2026).

Tak lama setelah unggahan tersebut, Trump kembali menyatakan bahwa kampanye bertajuk “Proyek Kebebasan” akan dimulai pada Senin pagi. Ia menambahkan bahwa perwakilan AS tengah melakukan pembicaraan dengan Iran guna mencari solusi yang dinilai positif bagi semua pihak.

Dalam mendukung operasi tersebut, Komando Pusat AS melalui Laksamana Brad Cooper menyebut Washington akan mengerahkan sekitar 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, kapal perang, hingga drone.

“Dukungan kami untuk misi pertahanan ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global karena kami juga mempertahankan blokade angkatan laut,” kata Cooper.

Diketahui, sejak konflik Iran melawan AS dan Israel memanas, Teheran telah memblokir hampir seluruh pengiriman dari kawasan Teluk, kecuali pengiriman dari negaranya sendiri, selama lebih dari dua bulan. Kondisi itu memicu lonjakan harga energi dunia.

Organisasi Maritim Internasional menyebut penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut tidak dapat melintasi jalur perdagangan vital tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt