Jakarta, Aktual.news – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan infrastruktur jalan dan jembatan yang terdampak bencana alam di koridor Jalan Nasional Provinsi Sumatera Utara.
Dari total 274 lokasi terdampak, pemerintah menargetkan 99 lokasi prioritas dapat diselesaikan pada 2026, sementara sisanya akan ditangani secara bertahap hingga 2028.
Menteri PU, Dody Hanggodo, mengatakan konektivitas menjadi faktor penting dalam mempercepat pemulihan wilayah yang terdampak bencana.
Menurutnya, keberadaan akses jalan dan jembatan berperan besar dalam mendukung distribusi logistik, pelayanan darurat, serta pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Akses jalan dan jembatan adalah kunci utama pergerakan logistik, pelayanan darurat, dan pemulihan ekonomi masyarakat. Karena itu, sejak awal kami bekerja tanpa jeda untuk memastikan keterisolasian wilayah bisa ditangani secepat mungkin. Keselamatan masyarakat dan kelancaran mobilitas menjadi prioritas kami,” kata Menteri Dody, di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Penanganan infrastruktur dilakukan pada lima klaster koridor utama jalan nasional dengan total panjang ruas mencapai sekitar 500 kilometer.
Tahap tanggap darurat telah dilaksanakan sejak November 2025 dan rampung pada Januari 2026. Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi permanen.
Hingga saat ini, progres penanganan pascabencana di seluruh klaster telah mencapai 18,31 persen. Sebanyak 45 lokasi telah memasuki tahap penanganan permanen sebagai bagian dari upaya pemulihan infrastruktur.
Pada Klaster 1 yang mencakup ruas Tarutung–Sipirok–Padang Sidempuan sepanjang 105,55 kilometer, terdapat 52 titik terdampak bencana.
Dari jumlah tersebut, 22 titik menjadi prioritas penanganan tahun 2026. Saat ini progres pekerjaan di klaster tersebut telah mencapai 14,10 persen.
Klaster 2 meliputi ruas Batas Aceh–Sibolga dan Rampa–Poriaha sepanjang 131,19 kilometer dengan total 69 titik terdampak. Pada tahun 2026, sebanyak 33 titik menjadi target penanganan. Saat ini pekerjaan konstruksi berlangsung di 14 lokasi dengan progres mencapai 21,50 persen.
Sementara itu, Klaster 3 yang berada di ruas Tarutung–Sibolga sepanjang 60,40 kilometer memiliki 70 titik terdampak. Sebanyak 20 lokasi direncanakan ditangani pada 2026. Proses konstruksi sedang berlangsung di 10 lokasi dengan progres 14,43 persen.
Pada Klaster 4 ruas Batangtoru–Singkuang sepanjang 117 kilometer, tercatat 60 titik terdampak bencana. Sebanyak 21 lokasi menjadi target penanganan tahun ini. Saat ini pekerjaan konstruksi berjalan di 13 lokasi dengan progres mencapai 18,91 persen.
Adapun Klaster 5 yang mencakup ruas Sibolga–Batangtoru–Padang Sidempuan sepanjang 89 kilometer memiliki 23 titik terdampak.
Pada tahun 2026, pemerintah memprioritaskan penanganan tiga lokasi. Hingga kini konstruksi berlangsung di dua lokasi dengan progres pekerjaan mencapai 22,73 persen.
Kementerian PU memastikan seluruh koridor utama yang terdampak kini telah kembali terhubung sepenuhnya. Meski demikian, penyempurnaan dan pemeliharaan jalur sementara atau detour masih terus dilakukan untuk menjamin keselamatan pengguna jalan selama proses pekerjaan berlangsung.
Dalam mendukung percepatan pemulihan konektivitas, Kementerian PU mengerahkan berbagai peralatan konstruksi, antara lain loader, excavator, backhoe loader, vibro roller, dozer, motor grader, dump truck, flat bed truck, bore pile machine, asphalt finisher, asphalt mixing plant, dan batching plant.
Pemerintah menegaskan akan terus melakukan pemantauan dan penanganan lanjutan hingga seluruh jaringan jalan dan jembatan yang terdampak di Sumatera Utara kembali berfungsi secara aman dan andal, sehingga mampu mendukung mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Laporan: Achmat
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi












