Banyumas, Aktual.news – Presiden Prabowo Subianto melirik produk genteng hasil pengolahan sampah dari TPST BLE Banyumas yang dinilai memiliki daya tahan tinggi dengan harga lebih terjangkau.
“Gentengnya lumayan efektif. Katanya cukup murah dan ini mungkin bisa masuk anggaran kita untuk bantuan perbaikan rumah,” kata Prabowo dikutip, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, saat ini pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp20 juta untuk perbaikan satu unit rumah. Dari jumlah tersebut, kebutuhan genteng diperkirakan berkisar Rp4–5 juta per rumah.
Menurut Prabowo, penggunaan genteng dari hasil daur ulang sampah sejalan dengan program gentengnisasi yang bertujuan mengganti atap rumah masyarakat yang masih menggunakan bahan berisiko seperti asbes dan seng.
“Kita mau hilangkan penggunaan seng yang berkarat. Berkarat itu nanti ujungnya tidak sehat untuk yang huni dan pandangannya juga tidak bagus,” ujarnya.
TPST BLE Banyumas mengklaim mampu mengelola sekitar 77,7 persen sampah yang dihasilkan masyarakat atau setara 574,52 ton dari total 738,8 ton per hari. Sampah tersebut dipilah berdasarkan nilai ekonominya, mulai dari kategori bernilai tinggi seperti botol plastik hingga limbah yang sulit didaur ulang seperti kain, popok, dan alas kaki.
Dengan kapasitas pengolahan mencapai 3,5 ton dalam 30 menit, fasilitas ini mampu menghasilkan berbagai produk turunan seperti refuse-derived fuel (RDF), paving block, hingga genteng.
Produk RDF yang dihasilkan telah memiliki offtaker, di antaranya Semen Indonesia Group serta pabrik semen di wilayah Banyumas dan Cilacap. Dari penjualan RDF, TPST mencatatkan pendapatan hingga Rp2 miliar per tahun.
Selain itu, TPST juga menggandeng perusahaan asal Malaysia untuk menyerap produk plastik yang diolah menjadi paving atau lantai palet. Saat ini, pihak pengelola tengah menjajaki kerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah untuk memperluas pemanfaatan produk paving dan genteng tersebut.
Adapun harga paving dipatok sekitar Rp2.500 per unit, sementara genteng dijual di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.500 tergantung desain.
Tak hanya itu, pengelolaan sampah organik juga dilakukan melalui pemanfaatan maggot. Hasilnya dapat dijual dalam bentuk hidup maupun kering dan banyak diminati sebagai pakan ternak berkualitas.
Inisiatif ini dinilai menjadi solusi pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis daur ulang di tingkat daerah.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Okt
















