Ilustrasi perumahan

Jakarta, Aktual.news – PT Bank Syariah Indonesia Tbk mencatat pertumbuhan positif pada pembiayaan griya seiring membaiknya daya beli masyarakat dan meningkatnya kebutuhan hunian nasional sepanjang kuartal I 2026. Hingga Maret 2026, portofolio pembiayaan griya PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencapai sekitar Rp60 triliun.

Angka tersebut menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan pembiayaan konsumer perseroan. Perseroan menyebut komitmen “Melayani Sepenuh Hati” turut menjadi langkah ekspansi perusahaan di sektor perumahan guna membantu masyarakat memiliki rumah sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Secara keseluruhan, kinerja BSI pada kuartal I 2026 tetap tumbuh di atas rata-rata industri perbankan nasional. Hingga Maret 2026, total pembiayaan perseroan tercatat mencapai Rp329 triliun.

Dari total tersebut, segmen konsumer dan emas menjadi kontributor terbesar dengan nilai pembiayaan mencapai Rp184,27 triliun atau tumbuh 17,59 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Pertumbuhan itu juga diikuti kualitas pembiayaan yang tetap terjaga.

Rasio Non Performing Financing (NPF) segmen konsumer berada di bawah 1,5 persen. Hal itu mencerminkan pengelolaan risiko dan prinsip kehati-hatian perusahaan dalam menjaga kualitas aset.

Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy mengatakan pembiayaan griya masih menjadi salah satu fokus utama perseroan karena kebutuhan rumah masyarakat dinilai masih tinggi dan memiliki potensi pasar besar.

“Kami melihat kebutuhan hunian masyarakat masih sangat besar, khususnya untuk pembelian rumah pertama. Hal ini sejalan dengan membaiknya daya beli masyarakat dan meningkatnya optimisme terhadap kondisi ekonomi nasional,” ujar Kemas, di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Menurut Erwan, pertumbuhan pembiayaan griya turut didukung berbagai keunggulan produk, seperti angsuran tetap hingga akhir tenor, fasilitas free appraisal, special price dari developer rekanan terpilih, hadiah BSI Emas, hingga sejumlah program promosi lainnya.

Selain fokus pada segmen komersial, BSI juga melanjutkan dukungan terhadap program kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Hingga Maret 2026, portofolio FLPP BSI tercatat telah menembus lebih dari Rp5,7 triliun. Perseroan juga mencatat tren booking pembiayaan griya masih tumbuh positif, terutama untuk pembelian rumah pertama dengan kisaran harga Rp500 juta hingga Rp1 miliar.

Permintaan pembiayaan lainnya berasal dari kebutuhan take over, renovasi rumah, hingga kebutuhan hunian masyarakat lainnya. Saat ini, BSI berada di posisi enam besar bank penyalur pembiayaan perumahan nasional dengan kualitas pembiayaan yang tetap sehat.

Perseroan optimistis sektor perumahan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Harapan itu tumbuh seiring dukungan kebijakan pemerintah melalui Program 3 Juta Rumah serta prospek konsumsi domestik yang terus membaik.

Artikel ini ditulis oleh:

Achmat