Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP*
INDONESIA tidak pernah kekurangan sekolah. Universitas terus bertambah, gedung-gedung pendidikan semakin megah, kurikulum terus diperbarui, teknologi pembelajaran semakin canggih, dan jumlah lulusan setiap tahun terus meningkat.
Namun, di tengah semua kemajuan tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting. Apakah pendidikan benar-benar sedang membentuk manusia, atau hanya sedang memproduksi tenaga kerja?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika berbagai persoalan sosial justru terus bertambah. Korupsi dilakukan oleh orang-orang berpendidikan. Manipulasi dilakukan oleh mereka yang memiliki gelar tinggi. Kerusakan lingkungan sering diputuskan oleh orang-orang yang memahami teori pembangunan. Bahkan berbagai ketidakadilan lahir dari meja-meja yang dipenuhi orang-orang pintar.
Masalahnya ternyata bukan terletak pada kurangnya pendidikan. Masalahnya adalah pendidikan yang kehilangan kesadaran.
Cak Nun berulang kali mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik. Pendidikan seharusnya membentuk manusia secara utuh. Pendidikan bukan sekadar mengisi kepala dengan pengetahuan, melainkan membangun hati, akhlak, kebijaksanaan, dan kesadaran akan tanggung jawab terhadap kehidupan.
Menurut Cak Nun, pendidikan seharusnya membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pekerja bagi industri. Pendidikan harus mampu membangun karakter, menggali potensi setiap individu, serta mengajarkan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan.
Namun yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Sistem pendidikan lebih banyak mengejar nilai, ijazah, akreditasi, peringkat, dan kebutuhan pasar dibandingkan membangun manusia yang beradab.
Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin empati. Pintar berhitung, tetapi tidak mampu menghitung penderitaan sesama. Menguasai teknologi, tetapi tidak memahami makna kehidupan. Memiliki gelar yang panjang, tetapi kehilangan arah mengapa ilmu itu dipelajari.
Yang lebih mengkhawatirkan, pendidikan perlahan berubah menjadi komoditas. Sekolah dipasarkan layaknya produk. Universitas berlomba menjual label internasional. Biaya pendidikan terus meningkat sehingga kualitas pendidikan sering kali diukur dari mahalnya uang kuliah, bukan dari kualitas manusia yang dihasilkan.
Cak Nun mengkritik kondisi tersebut dengan sangat tajam. Pendidikan tidak seharusnya diperlakukan sebagai komoditas dagang yang hanya mengejar keuntungan finansial. Ketika pendidikan dikendalikan oleh mekanisme pasar, maka akses terhadap pendidikan berkualitas hanya akan dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Pendidikan kehilangan ruhnya sebagai sarana memanusiakan manusia dan berubah menjadi industri yang memperjualbelikan masa depan.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah arah kurikulum. Hampir seluruh proses pendidikan dirancang dengan satu tujuan besar, yaitu mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja. Sejak kecil anak-anak diajarkan agar belajar dengan rajin supaya memperoleh pekerjaan yang baik. Ukuran keberhasilan pendidikan pun akhirnya diukur dari seberapa cepat lulusannya diterima bekerja.
Padahal, menurut Cak Nun, paradigma sekolah untuk bekerja merupakan bentuk perbudakan modern. Pendidikan tidak boleh hanya mencetak pencari kerja. Pendidikan harus melahirkan pencipta solusi, pencipta lapangan pekerjaan, inovator, pemikir, budayawan, ilmuwan, dan manusia yang mampu memberi manfaat bagi kehidupan.
Kesadaran inilah yang mulai menghilang dari sistem pendidikan kita.
Anak-anak lebih sibuk mengejar angka daripada memahami dirinya sendiri. Guru dibebani administrasi sehingga kehilangan waktu mendidik dengan hati. Orang tua lebih bangga ketika anak memperoleh nilai sempurna daripada ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan penyayang. Sekolah lebih sibuk mengejar akreditasi daripada memastikan setiap peserta didik menemukan potensi terbaiknya.
Padahal setiap manusia lahir dengan keistimewaan yang berbeda. Cak Nun menyebut bahwa setiap individu memiliki potensi dan fadilah masing-masing. Pendidikan yang baik bukan menyeragamkan semua orang, melainkan membantu setiap anak menemukan jalan hidupnya sesuai dengan fitrah yang telah diberikan Tuhan.
Dalam perspektif Sekolah Negarawan, pendidikan bukan sekadar investasi ekonomi. Pendidikan adalah investasi peradaban. Negara yang besar tidak dibangun oleh gedung sekolah yang megah, tetapi oleh manusia-manusia yang memiliki kesadaran.
Kesadaran bahwa ilmu adalah amanah. Kesadaran bahwa kecerdasan harus melahirkan keadilan. Kesadaran bahwa keberhasilan pribadi tidak boleh mengorbankan kepentingan masyarakat.
Bangsa ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Yang masih langka adalah orang-orang berilmu yang memiliki hati. Tidak sulit menemukan sarjana, doktor, profesor, atau pakar. Namun jauh lebih sulit menemukan manusia yang menggunakan seluruh ilmunya untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Karena itu, supremasi pendidikan tidak boleh lagi diukur dari jumlah universitas terbaik, tingginya peringkat internasional, atau banyaknya lulusan setiap tahun. Supremasi pendidikan yang sesungguhnya adalah ketika pendidikan berhasil melahirkan manusia yang berakhlak, berbudaya, kreatif, mandiri, serta mampu menjadi rahmat bagi lingkungannya.
Ilmu pengetahuan tanpa kesadaran hanya akan melahirkan manusia yang pandai memanfaatkan dunia untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, pendidikan yang melahirkan kesadaran akan membentuk manusia yang menggunakan seluruh ilmunya untuk menjaga kehidupan.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pendidikan yang mencerdaskan otak. Indonesia jauh lebih membutuhkan pendidikan yang membangunkan kesadaran. Sebab ketika ilmu bertemu dengan kesadaran, lahirlah manusia yang tidak sekadar sukses dalam kariernya, tetapi juga bermanfaat bagi bangsanya dan bernilai di hadapan Tuhannya.
*Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan












