Jakarta, Aktual.news – Mata uang nasional Iran, rial, dilaporkan anjlok ke titik terendah di tengah tekanan blokade laut oleh Amerika Serikat (AS) serta kondisi inflasi yang kian memburuk.
Mengutip laporan Al Jazeera, Jumat (1/5/2026), nilai tukar rial di pasar terbuka sempat melemah hingga menembus 1,81 juta per dolar AS pada Rabu siang, sebelum akhirnya pulih sebagian. Angka ini menunjukkan pelemahan signifikan dibandingkan awal pekan yang berada di kisaran 1,54 juta per dolar AS, serta sekitar 811.000 per dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Dalam dua bulan terakhir, pergerakan rial sempat relatif stabil setelah sebelumnya tertekan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan, termasuk pengerahan pasukan AS. Namun, tekanan kembali meningkat seiring eskalasi kebijakan blokade yang berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi Iran.
Penurunan tajam terbaru ini juga dipicu oleh inflasi yang tidak terkendali. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh kombinasi sanksi internasional dan persoalan internal dalam pengelolaan ekonomi, yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Tekanan terhadap Iran juga datang dari aksi blokade oleh Angkatan Laut AS. Berdasarkan laporan yang beredar, Washington telah menempatkan tiga kapal induk di kawasan tersebut dan berencana menambah kekuatan militer guna memperkuat blokade.
Menanggapi situasi tersebut, pemerintah Iran menunjukkan sikap lebih keras dalam negosiasi dengan AS. Teheran bahkan berjanji akan melawan blokade laut di perairan selatan negaranya. Di sisi lain, pemerintah juga mulai memberdayakan provinsi perbatasan untuk mempercepat impor kebutuhan pokok dengan memangkas birokrasi.
Selain itu, Iran telah mengalokasikan dana sebesar 1 miliar dolar AS dari dana kekayaan negara untuk pembelian bahan pangan. Pemerintah juga kembali menerapkan nilai tukar preferensial bersubsidi guna menekan harga barang, meskipun kebijakan ini memicu kekhawatiran akan potensi korupsi.
Sementara itu, laporan The Washington Post menyebut para ahli memperingatkan bahwa pelemahan rial berpotensi memperburuk inflasi, mengingat banyak barang impor seperti makanan, obat-obatan, hingga bahan baku industri sangat bergantung pada dolar AS.
Blokade yang dilakukan AS juga dinilai telah memangkas salah satu sumber utama pendapatan Iran, yakni ekspor minyak. Pembatasan dan penyitaan pengiriman minyak disebut menekan pendapatan negara secara signifikan.
Meski menghadapi tekanan berat, para pemimpin Iran tetap optimistis perekonomian nasional yang telah dibangun untuk mandiri selama puluhan tahun di bawah sanksi mampu bertahan.
Dalam upaya menghentikan blokade, Iran sebelumnya sempat mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS. Namun, usulan tersebut ditolak oleh Presiden AS Donald Trump.
“Blokade ini sedikit lebih efektif daripada pengeboman. Dan ini akan lebih buruk bagi mereka. Mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir,” ujar Trump, seperti dikutip dari The Washington Post, Kamis (30/4/2026).
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Okt

















