Arsip - Prajurit dari Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menghadiri upacara peringatan Hari Internasional Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon, 29 Mei 2025. (Xinhua/Ali Hashisho)
Arsip - Prajurit dari Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menghadiri upacara peringatan Hari Internasional Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon, 29 Mei 2025. (Xinhua/Ali Hashisho)

Jakarta, Aktual.news – Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mengutuk serangan udara yang menewaskan personel militer Lebanon di wilayah selatan negara itu, dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara serta resolusi Dewan Keamanan PBB.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui media sosial pada Sabtu (6/6/2026), UNIFIL menyampaikan belasungkawa kepada Angkatan Bersenjata Lebanon dan keluarga korban yang tewas dalam serangan di wilayah Nabatieh.

“Serangan semacam itu di wilayah Lebanon merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan Lebanon, integritas teritorial, dan Resolusi Dewan Keamanan 1701,” demikian pernyataan UNIFIL.

Serangan tersebut dilaporkan menghantam kendaraan militer Lebanon dan menewaskan dua perwira serta satu prajurit. Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam insiden tersebut sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional. Sementara Perdana Menteri Nawaf Salam menyebutnya sebagai kejahatan terhadap Lebanon dan rakyatnya.

Militer Israel mengakui telah menargetkan kendaraan tersebut, dengan alasan adanya aktivitas mencurigakan di dekat posisi pasukannya di wilayah yang disebut memiliki aktivitas kelompok Hizbullah. Namun, pihak Israel menyatakan insiden tersebut masih dalam penyelidikan.

Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata rapuh yang mulai berlaku sejak April, serta upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel. Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 sendiri merupakan dasar penghentian konflik antara Israel dan Hizbullah pada 2006.

Di sisi lain, situasi keamanan di wilayah tersebut masih memanas. Juru bicara PBB Stephane Dujarric melaporkan UNIFIL mendeteksi 69 pelanggaran wilayah udara Lebanon oleh Israel pada 3 Juni, disertai puluhan serangan udara dan ratusan proyektil yang diluncurkan di sepanjang Garis Biru.

Selain itu, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret telah mencapai 3.593 orang, dengan 10.990 lainnya terluka. Dalam 24 jam terakhir saja, dilaporkan 67 orang tewas dan 257 lainnya mengalami luka-luka.

Ketegangan yang terus berlanjut ini dinilai berpotensi mengancam stabilitas kawasan, meskipun berbagai upaya diplomatik, termasuk mediasi Amerika Serikat, tengah dilakukan untuk mempertahankan gencatan senjata antara kedua pihak.

Sumber: Anadolu, Sputnik/RIA Novosti

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi