Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (kiri) Muhaimin Iskandar saat memberikan keterangan usai menghadiri acara International Conference on The Transformation of Pesantren, di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Selasa (24/6/2025). ANTARA/Rio Feisal

Jakarta, Aktual.news — Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar menanggapi dinamika di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.

Melalui unggahan di akun X pribadinya, Minggu (21/6/2026), Muhaimin atau Gus Muhaimin menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang mengedepankan harmoni dan persatuan, bukan arena kompetisi politik.

“NU itu bukan organisasi politik yang membuat hubungan selalu kompetitif. NU itu orkestrasi kultural yang menyatukan, bukan saling menyingkirkan,” tulisnya.

Ia juga menyampaikan pesan tegas kepada pihak-pihak yang dinilai membawa kepentingan politik ke dalam organisasi tersebut.

“Yang main-main di NU keluarkan aja. Yang berpolitik silakan di partai aja,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap dinamika internal PBNU menjelang Muktamar ke-35. Meski tidak menyebut pihak tertentu, pernyataan itu dinilai sebagai ajakan menjaga khittah dan tradisi kebersamaan Nahdlatul Ulama.

Dalam unggahan yang sama, Gus Muhaimin juga mengungkapkan kerinduannya kepada almarhum Hasyim Muzadi yang pernah memimpin PBNU periode 1999–2010.

Unggahan tersebut mendapat berbagai respons dari warganet dan memicu diskusi di ruang publik, terutama terkait dinamika yang berkembang menjelang Muktamar NU.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ma’shum Faqih mengingatkan pentingnya adab dalam setiap musyawarah organisasi. Hal tersebut disampaikannya menanggapi pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri.

Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam organisasi besar, namun harus disikapi dengan sikap saling menghormati dan mengedepankan kemaslahatan bersama.

“Tradisi pesantren mengajarkan bahwa musyawarah harus dilandasi adab, hikmah, dan ukhuwah,” ujarnya.

Ia berharap seluruh rangkaian Munas dan Konbes dapat menghasilkan keputusan yang arif serta memperkuat peran Nahdlatul Ulama bagi umat dan bangsa.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi