Jakarta, Aktual.news – Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat menghentikan serangan terhadap satu sama lain “untuk saat ini” dan akan menggelar perundingan pada Selasa (30/6) di Doha, ibu kota Qatar, guna menyelesaikan perselisihan terkait Selat Hormuz, demikian menurut laporan outlet media AS Axios pada Minggu (28/6).
Kedua pihak akan menghentikan serangan “untuk saat ini” dan “kapal-kapal dapat melintas secara bebas” seiring perundingan teknis dijadwalkan akan berlanjut, kata seorang pejabat AS sebagaimana dikutip.
Perundingan yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (30/6) itu semula akan digelar di Swiss dengan fokus pembahasan program nuklir Iran. Namun, ketegangan di Selat Hormuz yang kembali meningkat mendorong pemindahan lokasi perundingan ke Doha, sekaligus mengalihkan fokus pembahasan ke keamanan pelayaran di jalur perairan strategis tersebut.
Dalam perundingan di Swiss sepekan lalu, delegasi AS dan Iran menyepakati pembentukan saluran telekomunikasi langsung (hotline) antara militer AS dan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran guna mengoordinasikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, hingga Sabtu (27/6), hotline tersebut masih belum beroperasi, ungkap laporan. AS telah melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada Jumat (26/6) dan Sabtu (27/6) dengan alasan “agresi Iran yang terus berlanjut terhadap pelayaran komersial” di Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah posisi militer AS di kawasan tersebut.
Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center/JMIC) yang dipimpin (AS) pada Sabtu (27/6) menaikkan level ancaman keamanan maritim di Selat Hormuz dari sedang menjadi substansial.
Pemberitahuan tersebut juga memperingatkan para pelaut mengenai keberadaan ranjau di wilayah itu serta menyebutkan bahwa armada angkatan laut diperkirakan akan beroperasi di wilayah itu seiring berlanjutnya pembersihan ranjau.
Imbauan peningkatan level ancaman tersebut dirilis oleh Operasi Perdagangan Maritim Kerajaan Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations/UKMTO). JMIC merupakan badan penasihat maritim multinasional, sedangkan UKMTO berperan sebagai salah satu mitra utama dalam pertukaran informasi JMIC.
Berdasarkan imbauan tersebut, level ancaman dinaikkan menyusul serangan terhadap kapal-kapal komersial di perairan sekitar Selat Hormuz.
Pemberitahuan tersebut juga memperingatkan para pelaut mengenai keberadaan ranjau di wilayah itu serta menyebutkan bahwa pasukan angkatan laut diperkirakan akan beroperasi di wilayah itu seiring berlanjutnya pembersihan ranjau
Pelayaran melalui Selat Hormuz sempat berangsur pulih setelah AS dan Iran baru-baru ini mencapai sebuah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU), yang mendorong JMIC pada 18 Juni menurunkan level ancaman keamanan maritim di perairan sekitar menjadi sedang.
Namun, sebuah kapal kontainer dan sebuah kapal tanker minyak masing-masing diserang di perairan sekitar pada Kamis (25/6) dan Sabtu.
Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS pada Jumat (26/6) menyatakan bahwa pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran sebagai respons atas serangan terhadap sebuah kapal komersial di dekat Selat Hormuz sehari sebelumnya.
Sementara itu, data pelayaran internasional menunjukkan bahwa meskipun serangan-serangan tersebut mengakibatkan penurunan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, kapal-kapal komersial masih tetap melintasi jalur perairan itu.
JMIC pada Sabtu juga menyatakan bahwa untuk mengakomodasi arus kapal inbound dan outbound secara bersamaan, jalur pelayaran bagian selatan di Selat Hormuz, yang berada di dekat wilayah Oman dan didukung oleh militer AS, telah diperlebar.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran pada Kamis kembali menegaskan bahwa satu-satunya jalur yang diizinkan bagi kapal untuk melintasi Selat Hormuz adalah jalur yang telah diumumkan oleh otoritas Iran.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi












