Jakarta, Aktual.news – Rusia telah menerima sejumlah usulan dari Ukraina untuk menghentikan serangan jarak jauh, kata Presiden Rusia Vladimir Putin, Minggu (28/6).

“Ada juga usulan-usulan baru, dan saya siap menyebutkan beberapa di antaranya. Misalnya, menghentikan serangan jarak jauh ke dalam wilayah masing-masing pihak,” kata Putin kepada jurnalis Rusia.

“Jelas mengapa usulan ini diajukan, karena serangan balasan kami ke wilayah Ukraina lebih jauh ke dalam, lebih kuat, lebih terasa dampaknya, dan, terus terang, lebih menghancurkan sehingga menimbulkan konsekuensi yang benar-benar serius bagi rezim di Kiev,” kata Putin.

Ia juga mengungkapkan adanya usulan agar operasi tempur hanya dilakukan di empat wilayah — Wilayah Kherson, Wilayah Zaporizhzhia, Republik Rakyat Donetsk, dan Republik Rakyat Luhansk — dan menghentikan operasi tempur di seluruh wilayah lainnya.

Putin mengatakan kontak mengenai penyelesaian konflik di Ukraina masih berlangsung melalui beberapa jalur komunikasi.

“Ya, memang benar, kontak tersebut ada dan telah terjalin melalui beberapa arah serta beberapa saluran. Saya menganggap itu bukan rahasia,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Rusia mempertimbangkan dengan cermat setiap usulan yang datang dari Ukraina.

“Mengingat kekurangan personel yang sangat parah di angkatan bersenjata Ukraina, tampaknya mereka percaya bahwa hal ini bisa menjadi penyelamat bagi mereka. Namun, menyelamatkan rezim di Kiev bukanlah bagian dari rencana kami,” kata Putin.

Terbuka Peluang Jalan Damai

Sebelumnya, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, menyatakan Rusia selalu siap untuk melakukan kesepakatan damai dengan Ukraina.

“Sejak awal, mulai dari tahun 2022, kami telah mengatakan bahwa kami siap untuk kesepakatan damai,” kata Tolchenov dalam arahan pers di Jakarta, Rabu (24/6).

Tolchenov menjelaskan bahwa pada 2022, Rusia dan Ukraina telah mencapai kesepakatan damai yang telah diinisiasi oleh dua tim negosiasi, seraya menambahkan bahwa Rusia menunggu penandatanganan perjanjian tersebut.

Namun, lanjutnya, Perdana Menteri Inggris saat itu, Boris Johnson, membujuk Ukraina untuk melanjutkan perang tersebut, sehingga penandatanganan kesepakatan damai itu belum terjadi.

“Kami siap melanjutkan diskusi berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai. Baru-baru ini, Presiden Putin menyebutkan bahwa dia siap bertemu Zelenskyy jika Zelenskyy datang ke Moskow. Jadi, ini bukan masalah,” ujarnya.

Meskipun demikian, Tolchenov mengatakan saat ini sulit bagi Rusia untuk mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina karena menurutnya Eropa mencoba mendorong Kiev untuk melanjutkan perang.

Dubes Rusia itu menekankan bahwa Rusia ingin mencapai kesepakatan komprehensif, jangka panjang, dan berkelanjutan yang akan mempertimbangkan semua kepentingan nasional Rusia.

“Ini termasuk tidak adanya pangkalan NATO di wilayah Ukraina, status non-nuklir dan non-blok Ukraina, penghormatan terhadap hak asasi manusia minoritas nasional di Ukraina, termasuk warga negara berbahasa Rusia dan warga Rusia di wilayah Ukraina,” jelasnya.

Selain itu, perjanjian damai itu juga harus mencakup berbagai isu penting, termasuk persoalan wilayah yang dianggap telah jelas bagi Rusia, seperti Krimea, Kherson, Donetsk, Lugansk, dan Zaporozhye, katanya.

Dia menegaskan bahwa semua hal tersebut perlu dituangkan dalam kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina, serta menyatakan kesiapan Rusia untuk berdialog dalam bentuk apa pun.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi