Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP (Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan)
Jakarta, Aktual.news – Pada 12 Juni 2026, BEM UI menggelar demo “Menuju Indonesia Bangkrut” di Bundaran HI. Mahasiswa menuntut soal ekonomi, APBN, harga kebutuhan pokok, dan kebijakan pemerintah yang dinilai bermasalah. Ada yang mendukung, ada yang mengkritik. Ada yang membela pemerintah, ada yang membela mahasiswa. Ada yang menyalahkan polisi, ada yang menyalahkan presiden. Tapi di tengah situasi itu, pernyataan Cak Nun dalam sebuah forum Maiyah menarik direnungkan.
“Ketoke iki sing arep demo yo rodo miring, sing polisine ono miringe sitik. Jadi kedua-duanya ini miring, presidene yo miring banget. Pokoknya ada posisi tidak tegak, pertama pada pikiran manusia. Ada ketidakseimbangan berpikir dan ada ketidakadilan di dalam kalbunya.”
Kalimat ini bikin tidak nyaman. Soalnya kita biasa cari siapa yang benar dan salah, siapa korban dan pelaku, siapa yang didukung dan dilawan. Cak Nun justru mengajak lihat dari sudut lain yaitu bukan mahasiswa saja yang bermasalah, bukan polisi saja, bukan presiden saja. Yang bermasalah adalah keseimbangan berpikir bangsa ini.
Ketika mahasiswa turun ke jalan, sering muncul kemarahan besar terhadap pemerintah. Kemarahan itu mungkin punya dasar kuat. Kritik pada kebijakan publik adalah bagian penting demokrasi. Tapi kritik sehat berbeda dengan kebencian. Cak Nun mengingatkan: “Ada yang memperjuangkan kebenaran dengan kebencian.” Ini layak jadi introspeksi. Karena seringkali perjuangan yang awalnya ingin memperbaiki keadaan perlahan berubah jadi kebencian terhadap individu tertentu. Yang diperjuangkan bukan solusi, tapi pelampiasan. Padahal kebencian tidak pernah menghasilkan kejernihan, malah membuat orang kehilangan kemampuan melihat persoalan utuh.
Di sisi lain, pemerintah tak bisa anggap setiap kritik sebagai gangguan. Kekuasaan yang sehat harusnya bisa mendengar kegelisahan rakyat, termasuk mahasiswa. Ketika kritik selalu dianggap ancaman, yang muncul bukan kepercayaan melainkan jarak. Begitu pula aparat keamanan. Tugas menjaga ketertiban penting, tapi jangan sampai aparat kehilangan kemampuan memahami akar keresahan. Demonstrasi lahir karena ada persoalan yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, jika mahasiswa hanya lihat kesalahan pemerintah, mahasiswa miring. Jika pemerintah hanya lihat kesalahan mahasiswa, pemerintah miring. Jika aparat hanya lihat demo sebagai gangguan keamanan, aparat juga miring. Semua pihak kehilangan keseimbangan ketika hanya mampu melihat kesalahan pihak lain tanpa melihat kekurangan diri sendiri.
Persoalan lebih dalam bukan pada demo itu sendiri, tapi kondisi bangsa yang makin mudah terbelah. Pendukung pemerintah sering langsung memusuhi pengkritik. Pengkritik pemerintah sering langsung anggap pendukung pemerintah sebagai musuh rakyat. Akibatnya ruang dialog makin sempit. Padahal demokrasi dibangun di atas kemampuan berbeda tanpa saling menghancurkan.
Cak Nun lalu bilang: “Ada yang dipersatukan bukan oleh iman atau cinta, tapi dipersatukan oleh kebencian kepada seseorang.” Ini mungkin kritik paling tajam. Banyak kelompok solid bukan karena punya cita-cita sama, tapi karena punya musuh sama. Banyak gerakan kompak bukan karena visi besar tentang masa depan bangsa, tapi karena kebencian pada tokoh tertentu. Padahal persatuan di atas kebencian biasanya tak bertahan lama. Ketika objek kebencian hilang, persatuan itu ikut hilang. Sebaliknya, persatuan di atas cinta pada bangsa akan tetap bertahan meski berbeda pandangan politik.
Mungkin karena itu Cak Nun menyampaikan kalimat indah: “Tidak ada kebencian sebenarnya di Indonesia. Yang ada adalah cinta yang disakiti.” Ini mengubah cara pandang. Mahasiswa yang turun ke jalan mungkin sedang mencintai Indonesia dengan caranya sendiri. Rakyat yang mengkritik pemerintah mungkin sedang mencintai Indonesia dengan caranya sendiri. Bahkan pendukung pemerintah sebenarnya juga mencintai Indonesia dengan cara yang mereka yakini.
Masalah muncul ketika cinta yang terluka berubah jadi kemarahan, lalu kemarahan berubah jadi kebencian. Pada titik itu, mahasiswa tak lagi melihat manusia di balik jabatan presiden. Pemerintah tak lagi melihat kegelisahan di balik teriakan mahasiswa. Masyarakat tak lagi melihat sesama anak bangsa di balik perbedaan pilihan politik. Yang tersisa hanyalah kubu melawan kubu.
Pelajaran paling penting dari demo BEM UI bukan siapa yang menang dan kalah, bukan apakah tuntutan diterima atau ditolak. Pelajaran terpenting adalah kesadaran bahwa bangsa ini butuh lebih banyak kejernihan daripada kemarahan, lebih banyak dialog daripada stigma, lebih banyak cinta daripada kebencian. Sebab jika mahasiswa, polisi, dan presiden sama-sama berdiri miring, maka yang perlu diluruskan bukan hanya kebijakan, demo, atau kekuasaan. Yang perlu diluruskan adalah cara berpikir dan cara memandang sesama anak bangsa. Karena Indonesia tidak akan membaik hanya dengan mengganti siapa yang berkuasa. Indonesia akan membaik ketika setiap pihak kembali menemukan kemampuan berdiri tegak dalam akal sehat, keadilan, dan cinta pada bangsanya sendiri.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain












