Aktual/Ilustrasi: AI-ChatGPT

Jakarta, Aktual.news – Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu dari empat bulan suci (asyhurul hurum) yang disebutkan dalam Al-Qur’an bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Karena kedudukannya yang istimewa, Muharram memiliki berbagai keutamaan yang mendorong umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh.

Di antara hari yang paling dimuliakan pada bulan ini adalah hari Asyura, yakni tanggal 10 Muharram. Hari tersebut dikenal sebagai hari yang sarat dengan peristiwa penting dalam sejarah para nabi dan menjadi salah satu momentum penuh rahmat dari Allah SWT.

Dalam sebuah hadis yang dinisbatkan kepada sahabat Umar bin Khattab disebutkan:

“Rasulullah saw bersabda: Allah telah menciptakan langit pada hari ‘Asyura, begitu pula bumi. Dan menciptakan gunung-gunung pada hari ‘Asyura, begitu pula bintang-bintang. Dan (pada hari ‘Asyura juga) diciptakannya ‘Arsy, begitu pula kursi. Dan diciptakannya lauh mahfudz, begitu pula qolam. Dan diciptakannya Jibril, begitu pula malaikat-malaikat lain. Dan diciptakannya Nabi Adam (juga) pada hari ‘Asyura. Nabi Ibrahim juga dilahirkan dan diselamatkan dari api pada hari tersebut. Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan pada hari ‘Asyura. Hari itu juga Nabi Idris dan Nabi Isa diangkat ke langit, Nabi Ayyub disembuhkan dari sakitnya, Allah menerima taubatnya Nabi Adam, diampuninya Nabi Dawud, dan Nabi Sulaiman diberikan kerajaannya yang megah. Pada hari itu juga, hujan dan rahmat Allah pertama kali diturunkan.”

Berdasarkan berbagai riwayat tersebut, hari Asyura dipandang sebagai hari yang penuh keberkahan dan menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada hari tersebut adalah berpuasa.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadis dari Ibnu Abbas RA:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُوْنَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسَأَلَهُمْ عَنْ ذَالِكَ فَقَالُوا إِنَّ هَذَا الْيَوْمَ أَظْهَرَاللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَ بَنِيْ إِسْرَائِيلَ عَلَى قَوْمِ فِرْعَوْنَ فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ بِصَوْمِهِ.

Adapun terjemahannya:

“Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di kota Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya: ‘Ada apa dengan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari ketika Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil atas Fir’aun dan kaumnya. Maka kami berpuasa untuk memuliakan hari tersebut.’ Lalu Nabi bersabda: ‘Kami lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian dengan berpuasa pada hari itu.’”

Selain puasa pada tanggal 10 Muharram, Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a) guna membedakan tradisi ibadah kaum Muslimin dari kaum Yahudi dan Nasrani yang juga berpuasa pada hari Asyura.

Di samping ibadah puasa, amalan lain yang sangat dianjurkan pada hari Asyura adalah menyantuni anak yatim. Perhatian terhadap anak yatim menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial yang memiliki nilai keutamaan besar di sisi Allah SWT.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

… وَمَنْ مَسَحَ بِيَدِهِ عَلَى رَأْسِ يَتِيْمٍ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ رَفَعَ اللهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ عَلَى رَأْسِهِ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ (الحديث)

Artinya:

“Dan barang siapa yang mengusap kepala anak yatim dengan tangannya pada hari ‘Asyura, maka Allah akan menaikkan derajatnya di surga dengan hitungan setiap satu helai rambutnya dinaikkan satu derajat.”

Makna hadis tersebut tidak terbatas pada mengusap kepala anak yatim semata, tetapi juga mencakup sikap menyayangi, memperhatikan, dan membantu mereka dalam berbagai kebutuhan hidup. Karena itu, hari Asyura juga dikenal sebagai momentum berbagi dan memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya, hari Asyura menjadi salah satu hari istimewa dalam Islam yang dapat diisi dengan beragam amal ibadah, mulai dari puasa, sedekah, hingga kepedulian terhadap anak yatim dan sesama. Umat Islam diharapkan dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan ketakwaan serta menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk terus menjumpai hari-hari penuh keberkahan dan mengisinya dengan amal yang diridhai-Nya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain