Pesan Mendukbangga Wihaji di Hari Keluarga 2026: Wahai Para Ayah Letakkan HP & Peluk Anak-anakmu di Rumah.

Wihaji menambahkan, ketangguhan keluarga bukan sekadar urusan domestik, melainkan urgensi nasional yang berkorelasi linier dengan nasib bangsa, jika institusi keluarga rapuh, ledakan usia produktif justru akan berbalik menjadi bencana demografi yang meruntuhkan stabilitas sosial.

“Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan. Ke mana pun anak kita melangkah, magnet kehangatan keluarga akan selalu menarik mereka pulang ke jalan yang benar,” katanya.

Dalam rangka mewujudkan keluarga yang berkualitas, Mendukbangga menegaskan pentingnya transformasi kualitas sumber daya manusia dari dalam rahim ibu melalui tiga pilar.

“Tiga pilar, yang pertama, kesehatan untuk menuntaskan stunting. Anak yang terhambat otaknya akan sulit berkembang. Oleh karena itu perlu penguatan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan,” paparnya.

Transformasi kedua, lanjutnya, yakni pendidikan karakter dimana keluarga perlu menjadikan rumah sebagai ruang aman di tengah disrupsi teknologi.

“Ketiga, ketahanan mental, karena keluarga merupakan hulu dari setiap kebijakan nasional sebagai pelabuhan nasional yang stabil,” ucap Mendukbangga Wihaji.

Sejarah Harganas diperingati sebagai pengingat peristiwa kembalinya para pejuang kemerdekaan kepada keluarga mereka pada 29 Juni 1949 dan tonggak dimulainya Gerakan Keluarga Berencana (KB) Nasional pada 29 Juni 1970.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) periode 1983–1998 Haryono Suyono menginisiasi Hari Keluarga Nasional yang pertama kali diperingati di Lampung pada 1993. Peringatan tersebut sekaligus menjadi pemberian penghargaan kepada masyarakat Indonesia yang berjuang.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi