Jakarta, Aktual.news — Mantan Menteri Luar Negeri Jerman Joschka Fischer menyebut aliansi pertahanan Atlantik Utara atau NATO mulai mengalami perpecahan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Dalam tulisannya di harian Le Monde, Fischer menilai proses disintegrasi NATO telah dimulai, meski tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia menegaskan bahwa aliansi seperti NATO menjadi rapuh ketika kepercayaan terhadap komitmen fundamental, termasuk Pasal 5 tentang pertahanan kolektif, mulai melemah.

“Bagaimanapun, proses disintegrasi aliansi sudah dimulai. Struktur lama dan teruji seperti NATO biasanya tidak runtuh dalam semalam atau akibat satu peristiwa,” tulis Fischer dalam kolomnya di Le Monde, dikutip dari Sputnik/RIA Novosti.

Fischer mengaitkan kondisi tersebut dengan kebijakan Presiden AS Donald Trump, terutama setelah sejumlah negara Eropa menolak terlibat dalam operasi militer yang direncanakan AS dan Israel terhadap Iran.

Menurutnya, situasi ini menjadi titik balik bagi Eropa yang untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II harus memikirkan dan bertanggung jawab atas keamanan kawasan secara mandiri.

“Untuk pertama kalinya dalam delapan dekade, Eropa harus menentukan nasibnya sendiri dan bertanggung jawab atas keamanannya,” ujarnya, dikutip dari Sputnik/RIA Novosti.

Sebelumnya, Trump dilaporkan mempertimbangkan opsi menarik Amerika Serikat dari NATO setelah aliansi tersebut menolak mendukung rencana operasi militer terhadap Iran.

Di sisi lain, laporan Axios menyebutkan Trump tengah mengkaji opsi serangan militer baru terhadap Iran. Rencana tersebut mencakup kemungkinan operasi “singkat namun intens” yang menargetkan infrastruktur strategis guna menekan Teheran kembali ke meja perundingan terkait program nuklirnya.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan negaranya akan tetap mempertahankan teknologi nuklir dan rudal sebagai bagian dari kedaulatan nasional.

“Semua potensi, termasuk teknologi nuklir dan roket, merupakan kekayaan negara yang akan kami lindungi,” ujar Khamenei dalam pidatonya, dikutip dari Sputnik/RIA Novosti-OANA.

Ketegangan ini mencerminkan meningkatnya dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan, termasuk hubungan antara negara-negara Barat dan Timur Tengah, serta pasokan enegi global sejak blokade selat Hormuz hingga saat ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi