Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP*

SELAMA ini bangsa Indonesia diajarkan bahwa negeri ini dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun. Kalimat itu begitu sering diulang hingga menjadi pengetahuan umum yang jarang diperiksa kembali.

Anak-anak sekolah menghafalnya, buku sejarah menuliskannya, pidato kenegaraan mengingatkannya. Namun di balik kalimat itu, ada pertanyaan yang lebih dalam yaitu apakah Nusantara benar-benar kalah karena kekuatan militer, atau justru kalah karena tipu daya yang bekerja di dalam pikiran?

Cak Nun pernah menyampaikan pandangan yang menggugah. Beliau mengatakan bahwa Indonesia ini, menurutnya, bukan kalah karena dijajah, melainkan karena ditipu.

Selama ini bangsa ini diajarkan bahwa Belanda menjajah Indonesia, tetapi jika direnungkan lebih dalam, yang terjadi bukan semata-mata penjajahan melalui kekuatan militer, melainkan pembodohan yang sangat sistematis. Kita dibohongi, dikibuli, dikelabui, dan dibuat kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri.

Pandangan ini tentu bisa diperdebatkan secara sejarah, tetapi sebagai kritik kesadaran bangsa, kalimat tersebut sangat penting. Sebab penjajahan tidak selalu datang dalam bentuk senapan, meriam, kapal perang, atau benteng militer.

Penjajahan juga bisa datang melalui cerita, pendidikan, tafsir sejarah, sistem administrasi, bahasa hukum, dan cara pandang yang membuat bangsa terjajah merasa kecil di hadapan penjajahnya.

Cak Nun melanjutkan bahwa jika benar-benar hanya soal kekuatan militer, rasanya sulit diterima akal sehat. Nusantara memiliki begitu banyak pendekar, pejuang, ksatria, dan masyarakat yang berani.

Bagaimana mungkin bangsa yang begitu besar dan begitu banyak jumlahnya dapat tunduk hanya karena kekuatan beberapa orang asing?

Pertanyaan ini bukan untuk menafikan kekuatan kolonial, tetapi untuk membuka kemungkinan bahwa kekalahan terbesar bangsa ini bukan terjadi di medan perang, melainkan di medan kesadaran.

Yang terjadi adalah kemenangan melalui tipu daya. Kemenangan melalui penguasaan pikiran. Kemenangan melalui manipulasi sejarah, pendidikan, budaya, dan cara pandang terhadap diri sendiri.

Bangsa yang berhasil diyakinkan bahwa dirinya lemah tidak perlu terus-menerus dipukul. Cukup dibuat tidak percaya kepada kekuatannya sendiri, maka bangsa itu akan menunduk sebelum diperintah.

Di sinilah letak bahaya penjajahan model baru maupun lama. Jika suatu bangsa kehilangan tanah, tanah masih bisa direbut kembali. Jika kekayaan alam diambil, kekayaan masih bisa dicari lagi.

Tetapi, jika sebuah bangsa kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri, maka proses pemulihan menjadi jauh lebih panjang.

Bangsa yang minder akan selalu mencari pengakuan dari luar. Bangsa yang tidak percaya kepada sejarahnya sendiri akan menganggap semua yang datang dari luar lebih tinggi daripada warisan leluhurnya.

Cak Nun juga menyinggung bahwa bangsa ini terlalu baik. Orang Jawa terlalu baik. Orang Indonesia terlalu baik. Karena terlalu baik, bangsa ini menjadi mudah percaya. Karena mudah percaya, bangsa ini menjadi mudah dibujuk. Karena mudah dibujuk, bangsa ini menjadi mudah dikibuli.

Kalimat ini terasa sederhana, tetapi mengandung kritik budaya yang dalam. Kebaikan tanpa kewaspadaan bisa berubah menjadi kelemahan. Keramahan tanpa ketegasan bisa menjadi pintu masuk penipuan.

Kesantunan tanpa kesadaran politik bisa dimanfaatkan oleh kekuasaan asing maupun elite dalam negeri.
Kebaikan adalah nilai luhur. Tetapi kebaikan harus ditemani akal sehat.

Bangsa yang baik tetap harus mampu membaca tipu daya. Bangsa yang ramah tetap harus mampu menjaga martabat. Bangsa yang terbuka tetap harus mampu membedakan antara kerja sama dan penguasaan. Tanpa kemampuan itu, kebaikan justru berubah menjadi keluguan kolektif yang mudah dimanfaatkan.

Akibatnya, yang hilang bukan hanya kekayaan alam atau kekuasaan politik, melainkan kepercayaan terhadap kehebatan diri sendiri.

Bangsa yang sebenarnya besar akhirnya diajari merasa kecil. Bangsa yang memiliki peradaban panjang akhirnya diajari merasa tertinggal.

Bangsa yang memiliki kebijaksanaan sendiri akhirnya diajari bahwa segala sesuatu yang baik harus datang dari luar. Inilah bentuk penjajahan yang paling berbahaya yaitu penjajahan atas pikiran.

Bukan penaklukan wilayah, melainkan penaklukan kesadaran. Bukan sekadar penguasaan tanah, melainkan penguasaan cara manusia memandang tanah airnya sendiri.

Jika bangsa ini dibuat percaya bahwa leluhurnya tidak hebat, budayanya terbelakang, sistem nilainya kuno, dan masa depannya hanya bisa diselamatkan oleh teori luar, maka penjajahan itu sebenarnya belum selesai.

Hari ini bentuknya mungkin sudah berbeda. Tidak lagi selalu memakai bendera kolonial atau tentara asing. Tipu daya bisa hadir melalui sistem ekonomi, algoritma media, pendidikan yang tercerabut dari akar budaya, politik yang meniru tanpa memahami, dan pembangunan yang mengukur kemajuan hanya dari standar luar.

Bangsa ini dibuat sibuk mengejar validasi global, tetapi lupa menanyakan apakah arah itu sesuai dengan sukma Nusantara.
Karena itu, mengatakan “Indonesia tidak dijajah, Indonesia ditipu” bukan sekadar permainan kata.

Kalimat itu adalah ajakan untuk memeriksa kembali cara bangsa ini memahami sejarah dan dirinya sendiri. Kemerdekaan tidak cukup diukur dari bendera yang berkibar.

Kemerdekaan juga harus diukur dari kemampuan berpikir mandiri, menafsirkan sejarah sendiri, dan membangun masa depan berdasarkan jati diri sendiri.

Jika bangsa ini ingin benar-benar merdeka, maka yang harus dibebaskan bukan hanya tanah dan pemerintahan, tetapi juga pikiran.

Sejarah perlu dibaca ulang dengan keberanian. Pendidikan perlu dikembalikan kepada martabat bangsa. Budaya perlu dilihat sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar peninggalan masa lalu.

Pancasila perlu dipahami sebagai sari pati peradaban Nusantara, bukan sekadar hafalan resmi dalam upacara. Bangsa yang berhasil ditipu akan membela cerita yang merendahkannya. Bangsa yang sadar akan mulai menyusun kembali ingatannya.

Dan, di titik itulah perjuangan baru dimulai. Bukan perjuangan melawan penjajah bersenjata, melainkan perjuangan melawan kebohongan yang sudah terlalu lama tinggal di dalam kepala.

Indonesia tidak akan sungguh merdeka selama masih memandang dirinya dengan mata orang lain. Kemerdekaan sejati dimulai ketika bangsa ini berani melihat dirinya sendiri, mempercayai kebesarannya sendiri, dan berhenti hidup sebagai bangsa besar yang diajari merasa kecil.

*Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi