Jakarta, Aktual.news — Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, mendesak Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Nanik S. Deyang, untuk segera membenahi kualitas menu, ketepatan sasaran, hingga distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Desakan ini mencuat menyusul keputusan Presiden Prabowo Subianto yang mengganti nahkoda BGN dari Dadan Hindayana ke Nanik S. Deyang sebagai langkah strategis mengoptimalkan program beranggaran raksasa tersebut.
Nihayatul menilai mutasi tersebut sebagai hak prerogatif Presiden dalam mengevaluasi kinerja pembantunya. Menurutnya, MBG adalah program baru berskala masif, sehingga wajar jika Kepala Negara memberikan atensi khusus dan tidak main-main dalam pengawalannya.
“Pergantian jabatan itu hal yang biasa. Presiden pasti memiliki parameter dan penilaian tersendiri. Jika Presiden merasa perlu adanya penyegaran atau perbaikan kinerja, maka Presiden memiliki hak prerogatif penuh untuk melakukan pergantian,” ujar Nihayatul dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6/2026).
Meskipun mengakui bahwa kepemimpinan sebelumnya telah meletakkan fondasi awal yang baik, legislator dari Jawa Timur ini menggarisbawahi masih adanya ruang perbaikan yang krusial. Ia mencatat sejumlah pekerjaan rumah besar yang harus segera dieksekusi oleh Nanik dan jajarannya di lapangan.
“Kami mencatat beberapa hal yang memerlukan perhatian serius, seperti konsistensi Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) dalam menyediakan menu yang benar-benar bergizi dan higienis, ketepatan sasaran penerima manfaat, pemenuhan gizi spesifik, serta efektivitas distribusi program MBG di wilayah 3T,” urainya.
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengingatkan bahwa MBG bukan sekadar program bagi-bagi makanan, melainkan instrumen ganda untuk meningkatkan kualitas gizi anak bangsa sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal. Oleh karena itu, Nanik dituntut untuk menjaga amanat visi besar tersebut.
Meski tantangan ke depan terbilang berat, Nihayatul optimistis transisi kepemimpinan tidak akan menghambat laju program karena Nanik bukanlah wajah baru di internal BGN.
“Ibu Nanik bukan orang baru di internal BGN. Saya meyakini beliau sudah memahami betul seluk-beluk dan ritme kerja di badan ini. Beliau hanya perlu sedikit adaptasi di ranah struktural, setelah itu harus langsung tancap gas menjalankan program,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi











