Jakarta, Aktual.news – Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Jafar mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor global. Desakan ini muncul setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok ke level 5.644,23 dan nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp18.041 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026).
Marwan menilai tekanan terhadap pasar keuangan domestik semakin mengkhawatirkan. Hal ini tercermin dari arus modal keluar (capital outflow) yang mencapai jual bersih sebesar Rp66,20 triliun sepanjang tahun berjalan.
Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan tren di negara berkembang lainnya. Bursa saham seperti Taiwan dan Vietnam justru mencatatkan kinerja positif dalam periode yang sama.
“Investor global tidak sedang menjauhi emerging market, tetapi secara spesifik mengurangi eksposur di Indonesia,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan indikator Indonesia ETF (EIDO), kinerja pasar Indonesia mencatatkan return minus 28,6 persen sejak awal 2025. Hal ini dinilai mencerminkan penurunan kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
Marwan menilai persoalan utama bukan pada kemampuan ekonomi nasional. Ia menegaskan masalah terbesar terletak pada menurunnya kredibilitas dan kepastian hukum di mata investor global.
Ia juga menyoroti sejumlah faktor yang memperburuk kondisi pasar. Di antaranya pelemahan daya beli kelas menengah, tekanan terhadap rupiah, serta outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch Ratings.
Namun demikian, ia menilai faktor paling dominan adalah risiko komunikasi kebijakan pemerintah. Menurutnya, ketidakpastian muncul akibat kebijakan yang sering diumumkan secara mendadak tanpa koordinasi yang jelas.
Marwan mencontohkan munculnya sejumlah kebijakan baru di tengah adaptasi pelaku pasar terhadap regulasi sebelumnya. Kebijakan terkait Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), devisa hasil ekspor (DHE), hingga pajak UMKM disebut memperburuk sentimen pasar.
“Kebijakan yang muncul mendadak ini memberikan pukulan beruntun bagi kenyamanan investasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, pasar saat ini tidak lagi mencari alasan untuk menjual aset. Sebaliknya, investor tengah menunggu kepastian untuk kembali bertahan di pasar Indonesia.
Untuk itu, Marwan mendesak pemerintah menghentikan penerbitan regulasi yang bersifat restriktif secara tiba-tiba. Ia menekankan pentingnya komunikasi kebijakan yang transparan, terukur, dan memiliki lini masa yang jelas.
Selain itu, ia meminta Bank Indonesia mengoptimalkan instrumen moneter guna menahan pelemahan rupiah. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas dan mencegah kepanikan di sektor riil.
Ia juga mengingatkan pemerintah untuk menjaga kredibilitas fiskal. Hal ini diperlukan agar Indonesia tetap mempertahankan peringkat investment grade dari S&P Global Ratings serta memitigasi risiko dari outlook negatif lembaga pemeringkat lainnya.
Marwan menegaskan langkah cepat diperlukan sebelum penilaian indeks global oleh FTSE dan MSCI pada pertengahan Juni. Menurutnya, momentum tersebut krusial untuk menentukan arah kepercayaan investor terhadap Indonesia ke depan.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi











