Agresi Israel di Gaza: Korban Jiwa Terus Bertambah, Kian Banyak Warga Alami Gangguan Pendengaran, dan Terusir dari Rumahnya.

Jakarta, Aktual.news – Sumber-sumber medis di Jalur Gaza mengumumkan bahwa jumlah korban tewas akibat agresi Israel kini mencapai 73.058 orang, dengan 173.488 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023.

Sumber yang sama mengatakan rumah sakit di Jalur Gaza kembali menerima empat korban tewas dan delapan korban luka dalam 24 jam terakhir.

Menurutnya, jumlah total kematian sejak gencatan senjata pada 11 Oktober tahun lalu telah mencapai 1.045 orang. Korban luka juga mengalami peningkatan menjadi 3.380 orang dan 786 jasad telah ditemukan.

Tim medis mengatakan sejumlah korban masih terjebak di reruntuhan dan tergeletak di pinggir jalan lantaran tim ambulans dan penyelamat tidak dapat menjangkau mereka.

Dentuman Bom Sebabkan Banyak Warga Alami Gangguan Pendengaran 

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan puluhan ribu warga Palestina di Jalur Gaza mengalami gangguan pendengaran akibat suara ledakan berulang serangan udara Israel sejak Oktober 2023.

Dalam laporannya pada Sabtu (27/6), yang bertepatan dengan Hari Internasional Tuna Netra-Tuna Rungu, PBB menyatakan banyak penyandang disabilitas di Gaza kehilangan alat bantu mereka, termasuk kursi roda dan alat bantu dengar.

PBB menyebut perang di Gaza semakin memperparah kerentanan penyandang disabilitas.

Sebagian dari mereka tidak dapat mendengar perintah evakuasi, tidak bisa melihat jalan, atau tidak mampu bergerak tanpa bantuan sehingga menempatkan mereka pada risiko ganda di tengah perubahan cepat zona bahaya dan lokasi pengungsian.

Jumlah Pengungsi Terus Meningkat

PBB menambahkan bahwa sebagian besar warga Jalur Gaza masih menghadapi ketidakamanan dan pengungsian berulang yang berkepanjangan, disertai keterbatasan akses terhadap layanan dasar.

Menurut badan dunia itu, lokasi pengungsian yang padat, bangunan yang rusak, serta tempat penampungan sementara yang kekurangan air bersih, sanitasi, dan layanan perlindungan yang memadai membuat kehidupan penyandang disabilitas di Jalur Gaza semakin kompleks dan berbahaya.

PBB juga berulang kali memperingatkan bahwa kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, perempuan, anak-anak, dan lanjut usia, menghadapi dampak paling berat akibat konflik yang terus berlangsung di wilayah kantong Palestina itu.

Adapun kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyatakan, serangan bom api Israel memaksa keluarga-keluarga di Gaza mengungsi dalam semalam.

OCHA juga menyatakan, perluasan apa yang disebut sebagai “Garis Kuning” (Yellow Line) menghalangi keluarga-keluarga di Gaza untuk kembali ke rumah mereka.

Orang-orang di area Beit Lahia di Kegubernuran Gaza Utara mengungsi dalam semalam.

Pihak OCHA menyebut, sekitar tengah malam, kurang lebih 30 rumah tangga dilaporkan mengungsi saat tank-tank bergerak maju menuju Persimpangan Al Atatra di Beit Lahia.

Menurut laporan, sebuah drone dengan empat baling-baling (quadcopter) menjatuhkan amunisi pembakar yang menyebabkan tiga tenda terbakar.

Meski sebagian besar keluarga dapat kembali setelah pasukan tersebut ditarik, enam rumah tangga tetap mengungsi karena sebuah blok beton kuning dipasang di dekat tempat tinggal mereka. Pemasangan blok-blok semacam itu menandakan perluasan apa yang disebut sebagai Garis Kuning, yang merupakan batas penanda lokasi tempat kekuatan mematikan kerap kali digunakan, hingga ke area permukiman.

“Mitra-mitra kemanusiaan membantu keluarga-keluarga yang baru mengungsi atau kehilangan harta benda mereka. Pekan lalu, mitra-mitra merespons peringatan darurat yang berdampak terhadap 135 rumah tangga. Setelah melakukan evaluasi cepat terhadap kebutuhan masing-masing, para mitra menyediakan tenda, selimut, perlengkapan kebersihan dan perawatan diri, jeriken, serta terpal kepada para pengungsi melalui Mekanisme Distribusi Gabungan Cepat,” ujar OCHA.

Sebagian besar keluarga yang baru-baru ini terdampak merupakan korban serangan tersebut. Puluhan keluarga lainnya mengungsi dari area-area di sepanjang Garis Kuning menyusul masuknya pasukan Israel dan pemasangan blok beton kuning. Sebagian kecil warga menerima bantuan setelah ada kebakaran rumah atau banjir, papar OCHA.

Kantor PBB itu memaparkan bahwa mayoritas dari 2,1 juta jiwa warga di Gaza masih mengungsi. OCHA juga memperingatkan bahwa penyediaan tempat penampungan yang dapat bertahan lebih lama memerlukan izin untuk memasukkan bahan bangunan dan peralatan ke Jalur Gaza guna menyingkirkan puing-puing dan bahan peledak.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi