Mengapa Iran Kuat dan Indonesia Kehilangan Daya Juang

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP*

ADA satu pertanyaan yang menurut saya sangat penting untuk diajukan kepada bangsa Indonesia. Kita menghayati penderitaan siapa? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi mungkin justru menyentuh salah satu akar terdalam dari kekuatan sebuah bangsa. Sebab, bangsa tidak hanya dibangun oleh kekayaan alam, jumlah penduduk, kekuatan militer, pertumbuhan ekonomi, teknologi, atau kecanggihan institusi.

Bangsa juga dibangun oleh ingatan. Oleh luka yang tidak dilupakan. Oleh penderitaan yang dihayati bersama. Oleh pengorbanan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya hingga menjadi energi kolektif.

Cak Nun pernah menyampaikan sebuah pandangan yang menurut saya sangat penting untuk memahami mengapa Iran mampu bertahan menghadapi tekanan luar biasa selama puluhan tahun.

Ia mengatakan, “Kamu tahu kenapa Iran itu kuat? Kenapa Syiah itu kuat? Secara militer, secara ekonomi, secara mental, ideologi semua kuat. Saya tidak berarti setuju mereka, tapi mereka kuat. Salah satunya menurut saya karena mereka berangkat dari empati kepada penderitaan Hasan dan Husain.”

Pernyataan tersebut menarik karena Cak Nun sejak awal memberi batas yang jelas. Mengakui kekuatan Iran tidak berarti harus menyetujui seluruh sistem politiknya. Mengakui ketahanan masyarakat Syiah tidak berarti harus menjadi pengikut mazhabnya. Yang sedang dibicarakan adalah kemampuan suatu masyarakat mengubah penderitaan sejarah menjadi daya hidup bersama.

Di sinilah tragedi Karbala memperoleh makna yang jauh lebih besar daripada sekadar peristiwa masa lalu. Penderitaan Husain tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Ia diingat, diceritakan, direnungkan, ditangisi, dan diwariskan.

Dari generasi ke generasi, penderitaan itu terus hidup dalam kesadaran. Akibatnya, luka sejarah tidak menghilang bersama berlalunya waktu, tetapi berubah menjadi memori kolektif.

Memori kolektif inilah yang kemudian dapat menjadi energi moral. Sebuah masyarakat yang benar-benar menghayati penderitaan akan memiliki hubungan yang berbeda dengan pengorbanan.

Mereka memahami bahwa mempertahankan martabat dapat menuntut harga. Mereka memahami bahwa kekalahan secara fisik tidak selalu berarti kekalahan secara moral. Mereka juga memahami bahwa kematian seorang tokoh tidak selalu mengakhiri perjuangan. Dalam keadaan tertentu, kematian justru dapat memperbesar makna perjuangan itu sendiri.

Saya melihat hubungan yang sangat kuat antara pandangan Cak Nun tersebut dengan tulisan Mohd Azmi Abdul Hamid berjudul Jiwa Iran Bangkit dan Bergelora Bersama Pemimpin Tertinggi yang Syahid tertanggal 4 Juli 2026.

Dalam tulisan itu, Presiden Majelis Perundingan Organisasi Islam Malaysia atau MAPIM menggambarkan bahwa mereka yang memperkirakan gugurnya Pemimpin Tertinggi akan menjerumuskan Iran ke dalam kekacauan sesungguhnya salah membaca fondasi bangsa tersebut.

Mereka mengira kepemimpinan hanya bertumpu pada satu individu. Padahal kepemimpinan dapat hidup di dalam hati jutaan manusia yang telah menjadikan pengorbanan, martabat, keimanan, dan kemerdekaan sebagai bagian dari identitas kolektifnya.

Mohd Azmi menulis bahwa apa yang dimaksudkan untuk menghancurkan Iran justru memperkuat tekadnya. Apa yang dimaksudkan untuk membungkam suaranya justru memperkeras pesannya. Apa yang dirancang untuk memecah belah rakyatnya justru menyatukan mereka dengan tekad yang lebih besar.

Menurut saya, inilah sesuatu yang sering gagal dipahami oleh cara berpikir politik modern yang terlalu materialistik. Kita terbiasa mengukur kekuatan bangsa melalui jumlah senjata, ukuran ekonomi, cadangan devisa, teknologi, atau kapasitas industri. Semua itu tentu penting. Namun ada kekuatan lain yang tidak mudah dihitung melalui statistik yaitu alasan batin mengapa suatu bangsa bersedia bertahan.

Senjata dapat menghancurkan bangunan. Sanksi dapat menekan ekonomi. Serangan siber dapat merusak infrastruktur. Operasi rahasia dapat membunuh tokoh. Tetapi jauh lebih sulit menghancurkan bangsa yang memiliki ingatan kolektif tentang penderitaan dan alasan moral untuk terus melawan.

Iran telah menghadapi sanksi, isolasi diplomatik, sabotase, operasi rahasia, serangan siber, tekanan ekonomi, dan ancaman militer selama puluhan tahun. Namun negara itu tetap berdiri.

Tentu, ketahanan tersebut tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor. Ada institusi, militer, teknologi, sumber daya, jaringan politik, dan berbagai kepentingan strategis. Tetapi pandangan Cak Nun mengajak kita melihat lapisan yang lebih dalam yaitu psikologi sejarah sebuah masyarakat.

Masyarakat yang tumbuh dengan ingatan tentang Karbala memiliki kosakata batin mengenai penderitaan, pengorbanan, kesetiaan, ketidakadilan, dan perlawanan. Ketika penderitaan baru datang, mereka tidak memahaminya sebagai peristiwa yang sepenuhnya asing. Mereka memiliki kerangka sejarah untuk memaknainya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Bangsa kita sesungguhnya memiliki sejarah penderitaan yang tidak kalah panjang. Kolonialisme berlangsung selama berabad-abad. Tanah dirampas. Manusia dipaksa bekerja. Kekayaan alam diangkut keluar. Rakyat mengalami kelaparan, kekerasan, penghinaan, dan berbagai bentuk penindasan. Kemerdekaan pun tidak datang sebagai hadiah. Ada darah, air mata, pengasingan, penjara, penyiksaan, dan kematian.

Setelah merdeka, penderitaan juga tidak berhenti. Kita mengalami konflik politik, kekerasan, kemiskinan struktural, penggusuran, perampasan ruang hidup, ketimpangan ekonomi, dan berbagai ketidakadilan.

Sampai hari ini masih ada petani kehilangan tanah, nelayan kehilangan ruang tangkap, masyarakat adat kehilangan wilayah, buruh kehilangan kepastian, dan rakyat kecil yang harus berhadapan sendirian dengan kekuasaan.

Kita memiliki penderitaan. Tetapi pertanyaannya adalah apakah kita sungguh-sungguh menghayatinya? Atau kita hanya menghafalnya?

Di sekolah, sejarah sering dipadatkan menjadi tanggal, nama tokoh, lokasi pertempuran, dan soal pilihan ganda. Anak-anak mengetahui kapan perang terjadi, tetapi tidak diajak merasakan apa yang dialami manusia di dalam perang itu. Kita mengetahui nama pahlawan, tetapi tidak memahami harga batin yang mereka bayar. Kita memperingati kemerdekaan setiap tahun, tetapi sering kehilangan hubungan emosional dengan penderitaan yang melahirkannya.

Akibatnya, sejarah menjadi informasi, bukan energi. Kita mengenang penderitaan tanpa menjadikannya sumber daya juang. Kita membangun monumen, tetapi tidak selalu mewarisi keberanian. Kita memasang foto pahlawan, tetapi tidak sungguh-sungguh meneruskan keteguhan mereka. Kita menyanyikan lagu perjuangan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari mudah menyerah kepada ketidakadilan selama ketidakadilan itu tidak menimpa diri sendiri.

Mungkin di sinilah salah satu perbedaan penting antara bangsa yang menghayati penderitaan dan bangsa yang sekadar mencatat penderitaan. Ketika penderitaan benar-benar dihayati, lahirlah solidaritas. Ketika pengorbanan sungguh-sungguh dipahami, lahirlah kesetiaan. Ketika luka sejarah diwariskan sebagai kesadaran, lahirlah daya tahan.

Sebaliknya, ketika penderitaan hanya menjadi arsip, bangsa akan mudah melupakan. Penggusuran menjadi berita sehari. Kemiskinan menjadi angka statistik. Ketidakadilan menjadi konten media sosial. Korban menjadi angka. Kita marah sebentar, lalu berpindah ke isu berikutnya.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi luar biasa untuk menjadi bangsa yang sangat kuat. Kita memiliki kekayaan alam, jumlah penduduk besar, posisi geografis strategis, keragaman budaya, dan sejarah perjuangan yang panjang. Tetapi semua itu tidak otomatis melahirkan daya juang. Daya juang membutuhkan alasan batin.

Orang yang hanya mengejar kebahagiaan akan berhenti ketika kenyamanannya terganggu. Tetapi orang yang menghayati penderitaan memiliki alasan lebih dalam untuk terus berjalan. Ia tidak berjuang hanya karena ingin mendapatkan sesuatu. Ia berjuang karena tidak ingin luka yang sama terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, pelajaran dari Iran bukanlah bahwa Indonesia harus meniru Iran. Indonesia tidak perlu mengimpor sistem politik, mazhab, atau ideologi negara lain. Indonesia harus menemukan sumber daya juangnya sendiri dari sejarah dan penderitaan rakyatnya sendiri.

Kita harus kembali menghayati penderitaan mereka yang kehilangan tanah. Menghayati penderitaan rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Menghayati penderitaan keluarga yang kehilangan keadilan. Menghayati penderitaan mereka yang disingkirkan oleh pembangunan. Menghayati penderitaan orang-orang yang berjuang tetapi tidak pernah masuk ke dalam buku sejarah.

Sebab, mungkin benar bahwa bangsa yang kehilangan kemampuan menghayati penderitaan akan kehilangan energi untuk memperjuangkan masa depannya.

Tulisan Mohd Azmi Abdul Hamid menunjukkan bagaimana jiwa suatu bangsa dapat bangkit justru ketika musuh berharap bangsa itu runtuh. Cak Nun membantu kita memahami salah satu kemungkinan sumber kekuatan tersebut yaitu penderitaan yang tidak dibiarkan menjadi luka pribadi, tetapi diubah menjadi memori kolektif dan daya juang.

Maka, pertanyaan terakhirnya bukan lagi mengapa Iran kuat. Pertanyaan yang lebih penting justru ditujukan kepada kita sendiri. Seperti yang ditanyakan Cak Nun,
“Orang Maiyah dan orang Indonesia, kamu menghayati penderitaan siapa?”