Jakarta, Aktual.news – Viralitas lagu Mas Bahlil Ganteng (MBG) dinilai lebih berdampak terhadap peningkatan citra Partai Golkar dibandingkan terhadap figur Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Kesimpulan tersebut merupakan hasil riset digital yang dilakukan Citra Institute melalui pemantauan percakapan publik di media sosial.
Direktur Eksekutif Citra Institute, Yusak Farchan, memaparkan hasil penelitian bertajuk Bedah Hasil Riset Digital Analysis & Public Sentiment Report di Cimanggis, Depok, Kamis (2/7). Penelitian menggunakan metode Based on Intelligence Social Media Monitoring dengan membandingkan sentimen publik selama satu bulan sebelum lagu MBG viral dan satu bulan setelahnya.
Menurut Yusak, penelitian tidak dilakukan melalui survei tatap muka maupun wawancara terhadap responden, melainkan dengan mengolah data percakapan digital yang berkembang di berbagai platform media sosial. Metode ini bertujuan memetakan perubahan persepsi publik berdasarkan intensitas dan kecenderungan sentimen yang muncul selama periode pengamatan.
“Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan dampak antara figur dan institusi. Lagu MBG ternyata lebih kuat memperkuat citra Partai Golkar dibandingkan citra personal Bahlil Lahadalia,” ujar Yusak.
Data Citra Institute mencatat sentimen positif terhadap Bahlil sebelum lagu MBG viral pada periode 1–23 Mei 2026 mencapai 75 persen. Setelah lagu tersebut viral pada 24 Mei hingga 15 Juni 2026, angkanya turun menjadi 70 persen.
Sebaliknya, sentimen negatif terhadap Bahlil meningkat dari 19 persen menjadi 26 persen.
Meski demikian, Yusak menilai penurunan tersebut tidak sepenuhnya dipicu oleh viralitas lagu. Menurutnya, terdapat isu lain yang turut memengaruhi persepsi publik, termasuk polemik mengenai kenaikan harga Pertamax yang ramai menjadi pembahasan pada periode yang sama.
Berbeda dengan figur Bahlil, citra Partai Golkar justru mengalami penguatan signifikan. Sentimen positif terhadap partai berlambang pohon beringin itu meningkat dari 57 persen sebelum lagu MBG viral menjadi 78 persen setelah viralitas lagu berlangsung.
Pada saat yang sama, sentimen negatif terhadap Golkar turun cukup tajam dari 33 persen menjadi 15 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa produk komunikasi politik berbentuk lagu mampu memperkuat identitas dan citra kelembagaan partai di ruang digital. Dalam komunikasi politik modern, konten yang mudah diingat, ringan, dan mudah dibagikan cenderung memiliki jangkauan lebih luas dibandingkan pesan politik yang bersifat formal.
Namun demikian, hasil pemantauan sentimen digital tidak serta-merta menunjukkan hubungan sebab akibat secara langsung. Analisis media sosial menggambarkan kecenderungan percakapan publik selama periode tertentu, sehingga tetap dipengaruhi oleh berbagai isu lain yang berkembang secara bersamaan.
Sementara itu, Sekretaris Akademi Partai Golkar Arief Rosyid mengatakan hasil penelitian Citra Institute menjadi masukan penting bagi Akademi Partai Golkar dalam menyusun strategi kaderisasi sekaligus komunikasi politik menjelang agenda politik nasional berikutnya.
Menurut Arief, Akademi Partai Golkar dibentuk berdasarkan keputusan Rapimnas 2025 sebagai lembaga yang berfokus pada penguatan sistem kaderisasi dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia partai. Selain menjalankan pendidikan politik, akademi juga berfungsi sebagai pusat kajian atau think tank yang mengolah berbagai isu strategis menjadi rekomendasi kebijakan internal.
Ia menilai penelitian mengenai dampak viralitas lagu MBG memberikan perspektif baru mengenai efektivitas komunikasi politik digital. Konten kreatif yang mampu menjangkau berbagai kelompok masyarakat, termasuk generasi muda, dinilai dapat menjadi instrumen penting dalam membangun citra kelembagaan partai.
Arief menambahkan bahwa Bahlil Lahadalia menyikapi fenomena viral lagu MBG secara santai dan tetap fokus memperkuat fondasi organisasi serta sistem kaderisasi Partai Golkar. Menurutnya, hasil riset tersebut akan menjadi salah satu bahan evaluasi dalam merumuskan strategi komunikasi politik menuju Pemilu 2029.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi












